Anggaran CSR Perlu Ditata

csr secara umum

pelatihan CSR– Di tengah kondisi keuangan daerah tengah sulit, sekolah dituntut kreatif untuk urusan pembenahan ruang kelas. Salah satu yang bisa ditempuh yakni memanfaatkan dana program tanggung jawab sosial dari perusahaan swasta atau corporate social responsibility (CSR). Hanya, menurut pengamat pendidikan Nanang Ridjono, upaya itu belum efektif jika dilaksanakan sekolah. Sebab, tidak sedikit keluhan dia terima soal penolakan dari pihak swasta. Kalaupun ada, anggaran yang tersalurkan tidak sesuai kebutuhan. “Banyak proposal dari sekolah ke perusahaan yang tidak membuahkan hasil seperti harapan. Salah satunya, proposal yang diajukan tidak kuat, sehingga tak perlu diperhatikan,” ucapnya.Karena itu, lanjut dia, upaya tersebut harus diinisiasi Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda. Harapannya, di bawah supervisi Disdik, anggaran CSR tidak habis untuk kegiatan seremonial, tetapi mengarah pada pembiayaan jangka panjang.

Dia pun mengakui sulitnya mengandalkan anggaran daerah. Karena itu, dia berharap, perusahaan bisa menyalurkan anggaran tersebut. “Kendala lainnya, terkadang perusahaan sudah memberikan dana CSR. Jadi, ketika sekolah mengajukan proposal, mereka tidak mau mengeluarkan dana lagi,” imbuhnya.

Maka itu, lanjut dia, perlu koordinasi ketat dan komitmen dari pelaku bisnis, masyarakat, dan pemerintah. Dengan begitu, dana CSR terserap optimal dan dialokasikan dengan baik. “Negara tetap bertanggung jawab membenahi infrastruktur pendidikan. Sedangkan CSR hanya sebagai tambahan,” jelasnya. (*/nyc/ndy/k8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


one + 1 =