Program CSR di Daerah Bencana, Louvrea Sediakan Air Bersih lewat Pengadaan Sumur Bor

Program CSR di Daerah Bencana, Louvrea Sediakan Air Bersih lewat Pengadaan Sumur Bor

Pelatihan CSR – Bencana alam yang terjadi di Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) akhir Januari 2021 mendorong Louvrea menggelar bakti sosial dari program CSR (Corporate Social Responsible).

Perusahaan yang memproduksi perawatan kulit di Surabaya ini, menyerahkan CSR dalam bentuk penyediaan air bersih di daerah tersebut. Tepatnya di Dusun Parabaya.

Deny Suksesti, owner dan CEO Louvrea mengungkapkan, CSR itu berhasil membuat warga tersenyum.

“Saya senang mereka akhirnya tersenyum dapat air bersih dari kami,”

Perempuan yang baru-baru ini meraih penghargaan sebagai Successful Woman Entrepreneur 2021 itu mengungkapkan bahwa keberadaan sumur bor di Dusun Parabaya  bisa menjadi pahala yang terus mengalir hingga nanti.

Deny menambahkan, CSR ini diberikan sambil bekerjasama dengan Sekolah Relawan.

Mereka kemudian melakukan pengeboran air bersih yang dilaksanakan di Dusun Parabaya pertengahan bulan Februari lalu.

Air dari sumur tersebut kemudian dialirkan ke MCK umum.

“Dengan demikian masyarakat bisa menggunakannya untuk berbagai keperluan di rumah,” lanjut Deny.

Kini masyarakat Parabaya, terutama yang terdampak gempa, tak mengalami kesulitan air lagi berkat satu-satunya sumur yang dibangun atas kerjasama Louvrea dan Sekolah Relawan di dusun tersebut.

Kegiatan mencuci hingga membersihkan badan pun kini bisa dilakukan di rumah. Tidak perlu ke sungai lagi.

Bahkan Jinar, putri Marlin, kini bisa mandi serta sikat gigi dengan air yang konon lebih hangat dari sungai, bersama anak-anak lainnya.

Louvrea merupakan produsen skincare yang penjualannya sudah meluas hingga Singapore dan Sidney Australia. Selain CSR di Sulbar, bersama  volunteer Sekolah Relawan, mereka juga mendampingi penyintas di Sumare agar tetap hidup sehat dengan air bersih.

Kewirausahaan Perempuan Jadi Peluang Keluar Krisis di Masa Pandemi

Kewirausahaan Perempuan Jadi Peluang Keluar Krisis di Masa Pandemi

Pelatihan CSR –  Bintang Puspayoga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengatakan kewirausahan perempuan akan menjadi peluang bersama untuk dapat keluar dari krisis ekonomi yang terjadi selama pandemi. Hal ini mengingat pandemi Covid-19 telah memperberat ketimpangan yang dirasakan oleh perempuan. Tidak hanya mengakibatkan krisis kesehatan, pandemi juga mengguncang sektor ekonomi.

“Jika tidak ditangani dengan baik, krisis ekonomi dapat membawa dampak jangka panjang pada kehidupan perempuan. Oleh karena itu, peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan menjadi peluang bersama untuk dapat keluar dari situasi krisis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19,” ungkap Menteri PPPA di sela Virtual konferensi pers “Perempuan Kebanggan Indonesia, Perempuan Wirausaha”, Senin (8/3/2021).

Menteri PPPA menjelaskan menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai solusi bukan tanpa sebab. Hal ini karena kekuatan perempuan di bidang ekonomi, khususnya kewirausahaan sangat besar. Berdasarkan data perkembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan besar di Indonesia pada 2014-2018, dari total usaha yang berjumlah 64 juta unit usaha, 99,99% usaha di Indonesia adalah UMKM, serta lebih dari 50% usaha mikro dan kecil di Indonesia dimiliki dan dikelola oleh perempuan.

Pemberdayaan ekonomi tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh pendapatan semata tetapi juga sebgai alat untuk membebaskan diri dari jerat kekerasan dan diskriminasi yang mengikat mereka. Menteri Bintang berharap Hari Perempuan Internasional dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat bersama dalam mengawal kerja-kerja pemberdayaan perempuan.

“Khususnya di bidang ekonomi sebab upaya pemberdayaan perempuan membutuhkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak,” ujar Menteri Bintang.

Lebih lanjut Presiden Komisaris PT Kalbe Farma Tbk, Bernadette Ruth Irawati Setiady menjelaskan bahwa PT Kalbe Farma Tbk sebagai perusahaan kesehatan di Indonesia, selalu berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia. Ira memaparkan bahwa saat ini pembatasan aktivitas masyarakat yang dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19 berpengaruh pada aktivitas bisnis yang kemudian berimbas pada perekonomian.

Termasuk mempengaruhi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya yang dikelola atau dimiliki oleh perempuan.

”Mereka mengalami penurunan pendapatan, kesulitan mendapatkan bahan baku dan tidak sedikit juga yang gulung tikar. Setidaknya pendapatan dari usaha keluarga menurun sebesar 82%,” kata Ira.

Untuk itu, lanjut Ira, bersamaan dengan Peringatan Hari Perempuan Internasional, Kementerian PPPA dan PT Kalbe Farma Tbk melalui Fatigon meresmikan kolaborasi dalam mendukung “Perempuan Kebanggaan Indonesia, Perempuan Wirausaha”.

Kolaborasi yang didukung juga oleh UN Women, UNDP, dan Women’s World Banking rencananya akan dilakukan di 11 provinsi ini dilakukan sebagai upaya pemberdayaan perempuan terutama di tengah kondisi ekonomi yang porak-poranda akibat pandemi Covid-19. Kesebelas provinsi tersebut adalah Jawa Tengah, NTB, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kep. Bangka Belitung, Aceh, Lampung, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Gorontalo, dan Papua Barat.