Tag Archives: Pelatihan CSR

sekolah-alam

Pelatihan Teknik Membuat Sekolah Alam

PelatihanCSR-Seringkali pendidikan formal di Indonesia mendapatkan kritikan, hal itu disebabkan oleh adanya peningkatan standar kelulusan, perubahan kurikulum yang sering berganti sampai dengan lulusan atau sumber daya manusia yang banyak menganggur. Hal ini membuat sistem pendidikan di Indonesia dirasa perlu untuk dikaji ulang.

Selain pendidikan formal yang dilakukan saat duduk di bangku sekolah pada umumnya, salah satunya yang dapat dilirik adalah dengan memberikan opsi lain berupa sekolah alam. Sekolah alam ini menjadi opsi yang menarik bagi orang tua siswa untuk memberikan fasilitas Pendidikan kepada anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan dengan metode yang berbeda.

Sekolah alam secara legalitas maupun kurikulum mengacu pada kurikulum nasional, meskipun pada prakteknya terdapat perbedaan yang jelas antara sekolah alam dengan tipe sekolah mainstream lainnya. Sekolah alam kebanyakan tidak menggunakan bangunan berdinding sebagai tempat belajar, melainkan menggunakan alam terbuka sebagai tempat belajar mengajar. Konsep ini menekankan pentingnya ‘back to nature’, jadi anak dapat memaknai kehidupan apa adanya, apa yang dipelajari akan dipraktekan saat itu juga. Sekolah alam menekankan metode belajar sambil bermain (fun learning), dan konsep ini diharapkan lebih mampu meningkatkan kemampuan emosi dan intelektual anak.

Maksud
Kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam perencanaan, pengelolaan dan pengembangan sekolah alam.

Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan ini peserta diharapkan mampu:
1. Menyusun rencana pembangunan sekolah alam
2. Menyusun pengelolaan sekolah alam
3. Menyusun program pengembangan sekolah alam

Desa Binaan CSR Pertamina Dinobatkan Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan dari Kemenparekraf

Desa Binaan CSR Pertamina Dinobatkan Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan dari Kemenparekraf

Pelatihan CSR – Dua desa yang dibina Pertamina melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menerima penghargaan sebagai Desa Wisata Berkelanjutan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Desa tersebut adalah Desa Nglanggeran di Kabupaten Gunung Kidul dan Desa Lerep di Kabupaten Semarang, yang masuk ke dalam daftar 16 Desa Wisata Berkelanjutan yang terpilih dari seluruh desa di Indonesia.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno kepada Kepala Desa Nglanggeran, Senen dan Kepala Desa Lerep, Sumaryadi di Jakarta pada Selasa (2/3/2021).


Di tengah acara tersebut, Sandiaga Uno menjelaskan penerapan standar Desa Wisata Berkelanjutan berfokus kepada 3 aspek yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi.

“Melalui program sertifikasi desa wisata berkelanjutan, Kemenparekraf ingin mendorong desa-desa wisata di Indonesia agar lebih berkualitas, lebih kredibel, dan mampu berkolaborasi serta bersaing secara domestik dan internasional,” ujarnya.

Sandiaga menuturkan, untuk membangun quality tourism memerlukan beberapa syarat seperti infrastruktur, konektivitas, pemasaran, hingga daya tarik pariwisatanya sendiri sehingga mampu meningkatkan kualitas wisata serta kenyamanan dan keamanan destinasi wisata.


Unit Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Pemasaran Regional Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho menyebut, Pertamina telah menjalankan program CSR untuk mengembangkan desa wisata berkelanjutan sejak tahun 2011 dimulai dari Desa Nglanggeran.

“Beberapa bantuan yang telah diberikan di antaranya pembangunan waduk tadah hujan di puncak bukit dengan volume 8.000-10.000 m3 sebagai irigasi pertanian alami, perbaikan infrastruktur dan fasilitas penunjang wisata, serta berbagai pelatihan peningkatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi kepada kelompok tani dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat,” imbuh Brasto.

Dari program tersebut, Brasto menjelaskan berhasil meningkatkan kesejahteraan setidaknya 4.200 penduduk desa di mana rata-rata pendapatan per keluarga mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 11,5 juta dalam satu bulan.

“Setiap kepala keluarga mendapat alokasi tanah untuk bercocok tanam sebesar 2.000 m2 dengan total keseluruhan lahan seluas 30 hektar. Di lahan tersebut telah tertanam setidaknya 4.500 pohon durian dengan teknologi cocok tanam modern dan menghasilkan pendapatan tertinggi hingga Rp 140 juta per tahun. Tidak hanya itu, Desa Wisata Nglanggeran juga telah menciptakan alternatif pendapatan masyarakat lainnya seperti homestay, kuliner, parkir, ticketing, konser musik, kunjungan studi, dan sebagainya,” jelas Brasto.

Keberhasilan pengembangan Desa Wisata Nglanggeran pun direplikasi ke lokasi lainnya, yakni di Desa Lerep, Kabupaten Semarang sejak tahun 2018.

Bantuan yang diberikan berupa perawatan waduk mini geomembran serta budidaya durian yang dilengkapi pengairan alami dengan memberdayakan kelompok masyarakat setempat.

Brasto menambahkan, program ini merupakan bagian dari implementasi ESG (Environment, Social, Governance) yang mendukung upaya Pertamina sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 1 (Menghapus Kemiskinan), nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan nomor 15 (Menjaga Ekosistem Darat).

Brasto berharap penghargaan yang diterima Desa Wisata Nglanggeran dan Desa Wisata Lerep dapat memotivasi masyarakat setempat untuk terus meningkatkan kualitas wisata serta menjadi percontohan untuk di replikasi pada program CSR di lokasi lainnya