Upaya Pemkab Tapin Lestarikan Monyet Bekantan

 Jadwal Pelatihan CSR 2015 (klik disini)

Program Corporate Social Responsibility (CSR) erat kaitannya dengan masyarakat dan perusahaan-perusahaan besar. Karena pada dasarnya CGambar_Lucu_BekantanSR merupakan bentuk kontribusi perusahaan untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik secara sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat. Begitupula yang dilakukan PT Antang Gunung Meratus bersama Pemprov Kalimantan Selatan, Pemkab Tapin, WWF, dan beberapa universitas. Mereka menyediakan lahan seluas 90 hektar untuk konservasi monyet Bekantan yang dikenal langka.”Secara harfiah CSR diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, yang juga merupakan komitmen dari bisnis untuk berkontribusi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehingga berdampak baik bagi kehidupan sosial,” kata Deputi Eksternal Affair PT Antang Gunung Meratus (AGM), Budi Karya, di Sungai Muning, Tapin, Kalimantan Selatan, akhir pekan lalu.

Disebutkan, berbagai kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan demi melestarikan keberlanjutan lingkungan alam dapat dilakukan secara langsung maupun melalui kerja sama dengan pemangku kebijakan lainnya. Kegiatan CSR lingkungan biasanya berupa kampanye, pemberian bantuan pendidikan maupun pelatihan, penanaman pohon, pembuatan ruang terbuka hijau maupun taman, penghematan sumber daya alam, pengajaran hingga pengaplikasian daur ulang serta penggunaan kembali produk- produknya.

Budi mengatakan PT AGM dalam kegiatan CSR berbasis lingkungannya, menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB), WWF, Universitas Lambung Mangkurat dan Pemkab Tapin merancang pembangunan Kawasan Ekowisata Bekantan seluas 90 hektar.

”Dalam merancang pembangunan Kawasan Ekowisata Bekantan tersebut, terlebih dahulu tim yang dipimpin oleh Prof Dr.Hadi S. Alikodra yang dibantu oleh pakar bekantan Prof M.

Arief Soendjoto telah membuat Penelitian yang dilakukan diwilayah Rawa Gelam yang sekitar kanal PT. AGM yang merupakan habitatnya bekantan,” ujarnya. Bekantan-bekantan yang hidup di Rawa Gelam memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki bekantan yang hidup di wilayah lain di Kalsel. Keunikan itu terletak pada bagian wajahnya. Bekantan di Rawa Gelam berhidung merah, mancung dan bangir, ini tidak terjadi pada bekantan di tempat lain.

Sementara itu, Assisten 1 Bidang Pemerintah an Dan Kesra Pemkab Tapin, Muhammad Yunus, mengungkapkan bahwa Pemkab Tapin mendukung penuh kegiatan pembagunan kawasan ekowisata tersebut dengan mengkoordinasikan dinas-dinas terkait seperti pertanian, peternakan, kesehatan, kehutanan, dan KLBH.

“Nantinya kami juga akan melibatkan pemberdayaan masyarakat sekitar untuk dapat menjual berbagai macam produk lokal nantinya di ekowisata tersebut,” ujarnya. Ekowisata ini direncanakan dibuka untuk umum pada 2016. Sebuah gedung kantor sedang dibangun di lokasi untuk pengurus dan menara pantau untuk para pengunjung melihat bekantan yang bergelayutan di pepohonan.

Pengunjung akan menempuh jalur darat, lalu berperahu menyusuri Sungai Muning. Untuk menuju kawasan ekowisata ini bisa melalui kantor PT AGM, dari Banjarmasin menuju arah Tapin dan berhenti di KM 101 melalui jalur darat. pengunjung harus menggunakan transportasi umum di sini. Jaraknya sekitar 2 jam dari Bandara Samsudin Noor Banjarmasin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 6 = twenty four